Perayaan Hari Santri Nasional Ala PMTQ Bukit Hidayah - BaitumaalMunajat

Perayaan Hari Santri Nasional Ala PMTQ Bukit Hidayah

Perayaan Hari Santri Nasional Ala PMTQ Bukit Hidayah

Santri dan Literasi: Perayaan Hari Santri Nasional Ala PMTQ Bukit Hidayah

Suara pena beradu pelan dengan kertas, seirama dengan semilir angin yang menembus sela-sela kayu joglo pesantren. Di serambi yang bersahaja itu, deretan santri duduk berbaris rapi, lutut mereka bersilang di atas lantai mengilap, tangan-tangan muda menulis dengan penuh khidmat. Bukan sekadar mencatat, mereka sedang menenun makna—menyulam ilmu menjadi amal.

Inilah potret khas pesantren, tempat ilmu dan adab tumbuh beriringan. Dari balik surau tua dengan dinding kayu jati, lahir generasi yang menghafal ayat-ayat Tuhan sambil menulis ulang sejarahnya sendiri. Budaya literasi bagi santri bukanlah tren baru, melainkan warisan panjang para ulama yang memadukan pena dan zikir sebagai jalan dakwah.

Menyambut Hari Santri Nasional 2025, semangat itu kembali berpendar. Di bawah langit Gunungkidul yang teduh, Pondok Modern Tahfidzul Qur’an Bukit Hidayah, Jrakah, Gunung Kidul, menjadi saksi bagaimana para santri menyalakan cahaya literasi di tengah tradisi. Tak hanya menghafal Al-Qur’an, mereka juga menulis, merenung, dan berdiskusi—menjadikan pena sebagai ladang amal dan ilmu sebagai bekal hidup.

Di tengah derasnya arus digital, pesantren ini mengajarkan bahwa literasi bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca kehidupan. Menulis bukan sekadar menorehkan kata, tetapi merawat makna. Setiap huruf yang mereka goreskan adalah bentuk pengabdian: kepada ilmu, kepada bangsa, dan kepada Allah.

Tema Hari Santri tahun ini, “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia,” menemukan wujudnya di tangan-tangan santri yang tekun membaca dan menulis. Mereka bukan hanya pewaris kitab kuning, tapi juga penjaga nurani zaman. Dalam sunyi, mereka belajar menjadi juru bicara kebenaran—menyampaikan pesan Islam yang damai dan berperadaban.

Budaya literasi di pesantren sejatinya adalah bentuk jihad intelektual. Di ruang kecil dengan meja kayu sederhana itu, para santri belajar menafsirkan dunia melalui Al-Qur’an dan pena. Mereka sadar, bangsa yang besar adalah bangsa yang menulis sejarahnya dengan kesadaran, bukan sekadar menghafalnya.

Dari sinilah pesantren memberi pelajaran kepada dunia: bahwa kemerdekaan sejati tak hanya lahir dari perjuangan fisik, tapi juga dari kejernihan berpikir. Santri yang menulis, sejatinya sedang menegakkan peradaban.

Selamat Hari Santri Nasional 2025.
Semoga pena para santri terus menyalakan cahaya di jalan ilmu dan iman.

Penyusun: Alvin Qodri Lazuardy
Gambar: Dok. Istimewa PMTQ Bukit Hidayah

Tinggalkan komentar