Pengajaran dari Sikap Zuhud Abu Bakar R.A(Resume hasil bacaan buku Tarbiyatus Shahabah) - BaitumaalMunajat Pengajaran dari Sikap Zuhud Abu Bakar R.A (Resume hasil bacaan buku Tarbiyatus Shahabah)

Pengajaran dari Sikap Zuhud Abu Bakar R.A
(Resume hasil bacaan buku Tarbiyatus Shahabah)

Pengajaran dari Sikap Zuhud Abu Bakar R.A
(Resume hasil bacaan buku Tarbiyatus Shahabah)

Zuhud merupakan salah satu sikap mulia dalam Islam yang sering kali disalahpahami. Banyak orang mengira zuhud berarti meninggalkan dunia sepenuhnya dan hidup dalam kemiskinan. Padahal, hakikat zuhud bukanlah soal harta atau kemiskinan, melainkan bagaimana seseorang menempatkan dunia di tangannya, bukan di hatinya. Zuhud berarti menahan diri dari kecintaan berlebihan terhadap dunia, serta memilih hidup sederhana dan bermanfaat.

Ibnu Taimiyah pernah menjelaskan bahwa zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat. Artinya, seorang yang zuhud tidak mudah tergoda oleh hal-hal duniawi yang hanya memberi kesenangan sesaat. Ia lebih memikirkan bagaimana setiap langkah hidupnya bisa bernilai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Imam Ahmad bin Hanbal juga pernah ditanya oleh seseorang, “Apakah orang kaya bisa menjadi orang yang zuhud?” Beliau menjawab, “Ya, bisa. Asalkan hartanya tidak membuatnya lalai, dan ketika hartanya hilang, ia tidak bersedih.” Jawaban ini menunjukkan bahwa zuhud bukan berarti harus miskin, tetapi bagaimana seseorang mampu mengendalikan hatinya agar tidak diperbudak oleh harta.

Contoh terbaik dari sikap zuhud ini dapat kita lihat dalam diri Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A. Ketika menjelang wafat, Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya kepada Baitul Mal dan tidak meninggalkan satu dinar pun untuk keluarganya. Padahal, beliau adalah seorang khalifah — pemimpin tertinggi umat Islam — selama lebih dari dua tahun. Namun, kekuasaannya tidak membuatnya tamak atau memperkaya diri. Harta tidak menambah kecintaannya pada dunia, melainkan menjadi sarana untuk berbakti kepada Allah.


Sikap zuhud Abu Bakar adalah teladan yang sangat berharga, terutama bagi kita dan generasi muda. Dalam dunia modern yang serba cepat dan penuh persaingan, banyak orang berlomba-lomba mengejar harta dan popularitas tanpa peduli pada nilai-nilai akhirat. Dari Abu Bakar, kita belajar bahwa kemuliaan sejati bukan diukur dari banyaknya kekayaan, tetapi dari sejauh mana kita bisa menjaga hati agar tetap bersih dan ikhlas dalam beramal.
Menanamkan sikap zuhud kepada anak-anak berarti menanamkan nilai ketakwaan. Anak yang memahami makna zuhud akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah iri terhadap keberhasilan orang lain. Ia akan belajar bersyukur, hidup sederhana, dan berusaha dengan cara yang halal. Dengan begitu, ia tidak akan tergoda untuk melakukan perbuatan yang salah demi mendapatkan dunia.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang zuhud, yang lebih mencintai akhirat daripada kesenangan dunia. Semoga pula Allah menuntun anak keturunan kita untuk meneladani sifat mulia ini, agar hidup mereka selalu diberkahi dengan pertolongan, kemudahan rezeki, dan kebahagiaan di dunia serta kenikmatan abadi di akhirat.

Disusun Oleh: Muhammad Nur Ikhwan Darmawan/ Santri Pondok Modern Tahfidzul Qur’an Bukit Hidayah, Yaysan Rumah Yatim Wiwin Muslimah, Yogyakarta.

Kurator & Editor: Alvin Qodri Lazuardy

Rujukan Tulisan: Buku Tarbiyatus Shohabah, Diva Press

Foto: Dokumentasi Isrimewa PMTQ Bukit Hidayah.

Deskripsi Foto: Ikhwan Santri PMTQ menampilkan buku bacaannya yang menjadi rujukan artikel.

Tinggalkan komentar